=========================================================================================
Senin, 7 Juli 2014
> Cuma ngulang IPS ulang sama buk Nurmaysitah, Insya ALLAH <
=========================================================================================
Rabu, 01 Januari 2014, 23.48
Cerita Rakyat Betawi, Si Pitung
Memasuki abad
ke-20 tanah Betawi kokoh dalam cengkraman penjajah Belanda. Hampir 3 abad
penjajah menikmati kehidupan diatas keringat dan darah serta air mata penduduk
pribumi Betawi. Penjajah dengan segala daya dan upaya memeras keringat penduduk
melalui tuan tanah, para mandor, para centeng, dan bukan saja keringat bahkan
tulang sumsum penduduk Betawi akan diperas jika memberikan keuntungan kepada
mereka.
Pak Piun
memandang langit mendung, sementara isterinya bu Pinah duduk di bale-bale depan
rumah sambil memegang perut yang kian membesar. Beberapa hari lagi isterinya
akan melahirkan anak yang ke empat. Tiga anaknya duduk di dekat ibunya, sambil
bertanya, "Mengapa padi yang baru dipanen dirampas centeng Babah" bu
Pinah mengusap kepala anaknya sambil berkata lirih, " Biarin tong, lagian
padi kite masih ada."Pak Piun tetap memandang langit yang mendung,
berharap kepada yang maha kuasa agar isterinya melahirkan dengan selamat.
Pak Piun menitikkan
airmata bahagia, anak yang ke empat lahir dengan selamat. Digenggamnya tangan
isterinya seraya menyatakan puji syukur kehadirat Allah,"Siapa nama anak
kita?" isterinya tersenyum bahagia, terlupakan beban berat penindasan
kompeni penjajah beserta cecunguk-cecunguknya. Pak Piun memberi nama anaknya
dengan nama Pitung, isterinya menganggukan kepala tanda setuju.
Pitung lahir
ditanah Betawi. Ia anak ke empat dari pasangan suami-isteri pak Piun dan bu
Pinah. Ke-3 saudaranya masing-masing bernama Miin, Kecil, Anise. Pitung lahir
di kampung Rawabelong, kampung tersebut menjadi bagian dari partikelir
Kebayoran. Tuan tanah yang berkuasa di Kebayoran adalah Liem Tjeng Soen. Tanah
partikelir diperoleh dari pemerintahan Belanda melalui pembelian dokumen tanah,
serta kewajiban membayar pajak kepada Belanda. Tanah partikelir tersebut, Liem
Tjeng Soen mengangkat centeng dari kalangan priburni yang bertugas menagih
pajak kepada penduduk. Pitung masih kecil, tidak mengerti tentang tanah
partikelir, mengapa padi, ayam dan kambing bapaknya diambil sewenang-sewenang
oleh para centeng. Pitung menyaksikan sambil bertanya kepada bapaknya,
''mengapa ayam kita diambilin?"
Pitung menanjak
dewasa. Perawakannya tidak terlalu tinggi dan tdak terlalu rendah, sekitar
165-an em, kulitnya kuning, rambutnya keriting. Pitung dibesarkan didalam
keluarga pak Piun, sebagaimana anak Betawi pada umunnya Pitung memperoleh
Pendidikan tata krama dari bapak dan ibunya, belajar mengaji, membantu bapaknya
menanam padi, memetik kelapa, mencari rumput untuk kambing mereka, adakala
Pitung membantu tetangganya. Pitung anak yang rajin mengerjakan perintah Allah,
tidak pernah meninggalkan shalat, berpuasa, bertutur kata yang sopan, selalu
memenuhi panggilan ibu-bapaknya.
Untuk menambah
pengetahuan agama, Pitung belajar mengaji dengan Haji Naipin, seorang kiyai
terkemuka di kampung Rawabelong. Selain mengaji, Pitung juga belajar ilmu silat
dan ilmu bela diri lainnya pada Haji Naipin. Dalam menuntut ilmu tersebut,
Pitung tergolong cerdas, patuh dan taat terhadap Petunjuk sang guru Haji
Naipin. Karena ketekunan, keikhlasannya untuk menuntut ilmu, Haji Naipin
menjadi sayang kepadanya, dan menaruh harapan kepadanya untuk menjadi
penggantinya di kemudian hari.
Haji Naipin
mencurahkan semua ilmu yang dimilikinya kepada Pitung. Ilmu Pancasona, sebuah
ilmu bela ciri tingkat tinggi yang membuat pemilik ilmu kebal dari benda tajam
nusuh diberikan haji Naipin kepada Pitung. "Ilmu ini buat membela orang
lemah dari kezaliman, bukan untuk menzalimi orang lain" demikian pesan
haji Naipin.
Sebagai seorang
pemuda yang memiliki ilmu agama dan ilmu bela diri, Pitung selalu rendah hati.
Kerendahan hatinya membuat ia banyak teman. Diantara teman-temannya seguru
seilmu yang dekat sekali adalah Dji'i dan Rais. Pitung juga tak luput dari
gejolak perasaan orang muda, ia menjalin tali kasih dengan Aisyah gadis kampung
Rawabelong, keduanya bersepakat untuk membina rumah tangga di kemudian hari
bila sudah pantas untuk membina rumah tangga.
Berbekal ilmu
yang dimiliki, baik ilmu agama dan ilmu bela diri, Pitung membaktikan dirinya
untuk ibu bapaknya serta masyarakatnya di Rawabelong. Pitung turut membantu
bapaknya menanam padi, menggembalakan kambing, membantu para tetangganya dan
setiap yang membutuhkan uluran tangannya. Adakalanya Pitung datang membantu
meskipun tidak diminta, hal ini merupakan penerapan dari ilmu agama yang
dimilikinya, bahwa membantu orang lain adalah pekerjaan yang baik sebagai amal
soleh. Karenanya Pitung dikenal luas sebagai pemuda yang murah hati di
masyarakatnya.
Sebagai pemuda
Rawabelong, Pitung menyaksikan dengan mata kepalanya segala tindak tanduk
kezaliman para centeng tuan tanah Kebayoran Liem Tjang Soen kezaliman
Pemerintah Penjajah serta para serdadu Hindia Belanda yang dibantu oleh Demang
Kebayoran, yang menagih pajak secara paksa atas para penduduk kampung
Rawabelong. Pitung tidak dapat membiarkan kezaliman tersebut berlangsung di
depan matanya. Sebagai pemuda, darahnya mendidih menyaksikan
kesewenang-wenangan penjajah beserta kaki tangannya, ingin rasanya memberikan
pelajaran kepada mereka, namun ibu bapaknnya menentramkan kemarahan hatinya,
"jangan Tung ... dia orang punya kuase, nanti juga ada balasan buat
mereka", terus ibunya membujuk agar Pitung mengurungkan niatnya. Pitung
memenuhi permintam ibunya, tetapi hatinya bergejolak, kezaliman harus dilawan,
bukankah
ia selama ini belajar ilmu agama, yang menyuruh untuk Amar ma'ruf Nahi Munkar,
tegakkan kebaikan cegah kemungkaran.
Karena
seringnya menyaksikan kezaliman yang dilakukan oleh para centeng terhadap
penduduk Rawabelong, Pitung akhirnya turun tangan. Centeng yang petentengan
merampas hak milik penduduk dipermalukan Pitung. Dengan bekal ilmu bela diri
yang dikuasainya, Pitung mencegah centeng tersebut dalam merampas hak milik
penduduk. Si centeng menjadi murka dan menghajar Pitung yang dikiranya tak
memiliki kepandaian bersilat. Pitung menyambut serangan si centeng dan dengan
mudah membekuknya. Si centeng jadi malu dan bangkit pergi tanpa dapat membawa
barang apapun. "Awas lu, gua laporin sama Demang", centeng pergi
ngeloyor tanpa muka dibawah tatapan dan ejekan penduduk.
Pitung
dipanggil bapaknya, ia diminta menjualkan kambing ke pasar Tanah Abang.
Bapaknya sangat memerlukan uang untuk keperluan biaya hidup keluarga mereka,
"Tung gua butuh duit, lu jual gih kambing kite dua ekor", ujar
bapaknya. "Aye, pak!" sahut Pitung. Segera Pitung mengeluarkan dua
ekor kambing dari kandangnya, kemudian menuntun kambing tersebut ke pasar Tanah
Abang dengan berjalan kaki menelusuri jalan setapak kemudian melewati pinggiran
jalan kereta api sampai ke pasar Tanah Abang.
Di pasar Tanah
Abang Pitung menjual kambingnya kepada pedagang kambing. Setelah terjadi
penawaran dan kecocokan harganya, Pitung menerima uang penjualan kambingnya.
Uang tersebut ditaruh di saku baju bagian bawah, dan Pitung segera kembali ke
rumahnya.
Ketika Pitung
melangkah pulang, beberapa maling mengikutinya. Pitung tidak mengetahui kalau
orang yang mengikuti perjalanannya adalah para maling yang ingin mencuri uang
di kantongnya. Para maling tersebut terus mengikuti. Pitung tidak menaruh
curiga terhadap mereka. Di tengah perjalanan terdengar adzan dari sebuah
langgar, Pitung segera menghampirinya untuk menunaikan kewajibannya
melaksanakan shalat dzuhur. Pitung membuka bajunya, menyangkutkan ke dinding musolla,
kemudian turun ke kali mengambil air wudhu, tak ada rasa curiga sedikit pun
terhadap orang yang mengikuti perjalanannya, kesempatan demikian dimanfaatkan
para maling untuk mengambil uangnya.
Pitung
mengenakan bajunya dan masuk kedalam musolla untuk shalat, sementara orang yang
mengikutinya ke kali mengambil wudhu. Ketika selesai shalat dzuhur, Pitung
tidak menemukan orang yang mengikutinya sejak dari pasar Tanah Abang.
Pitung segera kembali kerumahnya, pak Piun sangat gembira,
menyangka Pitung pulang dengan membawa hasil penjualan kambing; "Tung,
mane Tung duwitnya ?" tanya pak Piun gembira "Duwitnya ilang, pak,
dicopet orang," jawab Pitung polos. "Ape, duwitnye ilang? lu pake
kali," bapaknya tidak percaya. "Benar ilang Pak, aye kagak
pakek," Pitung mencoba menyakinkan Bapaknya. Bapaknya menjadi berang dan
berkata padanya, "Lu musti nemuin itu duwit, kalo kagak ketemu,lu jangan
pulang."
Pitung segera
kembali ke pasar Tanah Abang mencari orang yang mencuri uangnya. Pitung
menemukan mereka. Melihat Pitung mendekati, mereka menghampiri Pitung, salah
seorang berkata, "Tung gua tahu keberanian lu, baiknya lu jadi pemimpin
gua aja Tung, pokoknya beres deh lu bakal banyak duwit." "Pemimpin
apa ?" ujar Pitung. "Jadi pemimpin gua Tung, buat ngerampokin duit orang."
ujar orang itu melecehkan, Pitung diam saja, orang itu melanjutkan, "Lu
yang ngawasin dan mimpin, kita yang ngerampok."
"Ape
ngerampok ? Ah gue kagak mau, sebaiknya duit gue yang lu ambil, pulangin!"
kelihatan Pitung menahan amarah. "Pokoknya duwit lu kagak gue kembaliin
kalo lu nggak mau jadi pemimpin gue," orang itu mengejek.
Ejekan tersebut
membuat Pitung marah. Pitung segera mencekal leher orang tersebut.
Ternan-ternan orang tersebut segera menghampiri untuk mengeroyok Pitung. Dengan
sigap Pitung melayani perkelahian. Dalam waktu singkat para kawanan pencopet
itu dapat dibekuknya. Pitung mengambil uangnya, dan segera kembali kerumahnya.
Dengan rasa bangga Pitung menyerahkan uang tersebut kepada pak Piun.
Sejak peristiwa
tersebut, Pitung terpanggil untuk membela penduduk yang tertindas oleh
perlakuan sewenang-wenang para penguasa pribumi, para centeng, para tuan tanah
dan Belanda yang merampas hak milik penduduk. Setiap centeng yang terlihat
merampas hak milik penduduk, Pitung memberikan pelajaran kepada centeng
tersebut.
Para centeng
yang diberi pelajaran oleh Pitung sebagian insyaf dan tidak mau Iagi bekerja
pada tuan tanah maupun Belanda, dan sebagian lagi melaporkan kejadian tersebut
kepada tuan tanah. Tuan tanah melaporkan kepada penguasa penjajah Belanda
tentang tindaktanduk Pitung. Pitung dinilai telah menghambat tegaknya kekuasaan
penjajah di Rawabelong. Akibatnya Pitung mulai dimata-matai oleh aparat
penguasa penjajah Belanda.
Pitung
menyaksikan penderitaan penduduk yang dirampas hak miliknya oleh para centeng,
tuan tanah dan Belanda, dia bertekad untuk mengembalikan hak-hak penduduk
tersebut. Untuk itu Pitung dan temannya Dji'in dan Rais menjalankan aksi
mengambil harta yang ada ditangan para tuan tanah, penguasa pribumi, dan
orang-orang kaya yang berpihak dengan Belanda.
Bagi Pitung,
pengambilan secara paksa adalah halal karena harta tersebut pada dasarnya milik
penduduk yang diambil juga secara sewenang-wenang. Tidaklah berdosa merampas
harta para perampas. Harta yang dirampas si Pitung dan teman-temannya tersebut
dikembalikan lagi kepada penduduk. Pitung melaksanakan operasi perampasan
sampai ke Jembatan Lima dan Marunda.
Dalam suasana
demikian pihak ketiga menumpang lewat, ikut melaksanakan perampokan
mengatasnamakan si Pitung. Sehingga si Pitung terkenal di pelosok Betawi
sebagai perampok. Para tuan tanah, orang kaya pro-Belanda menjadi tidak
tentram, mengadukan kepada penguasa penjajah.
Penguasa
penjajah di Batavia memerintahkan aparat-aparatnya untuk menangkap Pitung.
Schout Heyne Kontrolir Kebayoran memerintahkan mantri polisi serta demang dan
bek untuk mencari tahu dimana Pitung berada. Schout Heyne menjanjikan uang yang
banyak bagi siapa saja yang bisa menangkap Si Pitung hidup atau mati. Tidak itu
saja, barang siapa yang bisa memberikan keterangan dimana Si Pitung berada akan
diberi hadiah.
Pitung
mengetahui dirinya diburon oleh penguasa penjajah beserta para cecunguknya.
Karena Pitung berpindah-pindah tempat, sampai ke Marunda. Meskipun diburon,
Pitung tetap melaksanakan operasi perampasan harta orang kaya, penguasa pribumi
para demang dan Tuan Tanah. Hasil perampasannya dibagi-bagikan kepada penduduk
yang miskin akibat pemerasan yang dilakukan para tuan tanah, centeng dan
Belanda.
Karena suka
membantu penduduk dalam menghalangi para centeng memeras serta suka membagi
uang hasil rampasan, Pitung menjadi idola penduduk yang tertindas oleh
kekejaman para centeng, tuan tanah dan Belanda. Meskipun Pitung diburon tetapi
selalu tidak dapat ditelusuri jejaknya. Para penduduk selalu menyembunyikan
Pitung di rumah mereka, bahkan seorang pedagang Cina pernah menyembunyikan
Pitung ketika dicari oleh kaki tangan penjajah.
Ada masa tidak
beruntung. Suatu ketika Pitung melakukan aksi perampasan bersama beberapa
kawannya, kedatangan mereka telah diketahui oleh kaki tangan tuan tanah.
Serdadu Belanda yang dipimpin mantri polisi Kabayoran telah bersiaga dengan
senjata. Ketika rombongan Pitung akan memasuki sebuah rumah milik tuan
tanah,terdengar tembakan yang mengarah kepada mereka. Bersamaan dengan itu
terdengar bunyi kentongan bertalu-talu tuan tanah Cina dan demang telah
menggerakkan para pemuda yang banyak sekali. Si Pitung dan kawan-kawannya telah
terkepung. Pitung dan kawan-kawannya berusaha untuk melarikan diri karena tidak
mungkin, menghadapi ratusan serta puluhan serdadu bersenjata.
Teman-temannya
meloloskan diri, sementara Pitung sengaja membiarkan diri untuk ditangkap agar
teman-temannya dapat lolos. Pitung akhirnya ditangkap serdadu, dibawa ke kantor
Kontrolir Scout Heyne. Schout Heyne terheran-heran ketika mengetahui siapa
sebenarnya Pitung yang selama ini menjadi momok. Schout Heyne menyangka Pitung
orang tinggi kekar dan bertampang seram, ternyata Pitung orangnya sederhana,
air muka yang jernih, tak terlihat perasaan bersalah. "kamu orang nama
Pitung ? Kamu
perampok ? Kamu orang jahat" Schout Heyne menghardik Pitung. Pitung
kelihatan tenang tanpa rasa takut, menantang tatapan mata Schout Heyne dan
berkata, "Tuan dan orang-orang tuan yang jahat, ngerampok harta penduduk,
membuat bangsa kami susah."
"Kamu orang berani sama Belanda ?"
"Mengapa takut." Scout Heyne memerintahkan serdadu
Belanda memasukan Si Pitung ke dalam penjara. Pitung dipenjarakan di penjara
Grogol.
Didalam penjara
Grogol Pitung tidak kerasan. Pitung memikirkan nasib penduduk yang dirampas hak
miliknya oleh Belanda beserta tuan tanah, demang dan para centeng. Di dalam
penjara tentulah Pitung tidak dapat membantu - penduduk. Pitung memutar otak
bagaimana caranya ia bisa lolos dari penjara. Kepada para ternan yang
sarna-sarna berada dalam penjara CrogoI, Pitung mengancam mereka "Kalu lu
semua bilang gua lolos dari genteng, lu semua gue bunuh." Karena ancaman
Pitung tersebut, mereka semua tutup mulut. Pada malam hari, penjaga
terkantuk-kantuk dan sempat lelap sejenak, segera Pitung memanjat dinding ruang
tahanan, menjebol plapon, membuka genteng, keluar melalui bubungan atap
penjara, melompat keluar. Pitung lolos dari penjara Grogol. Teman-temannya
dalam penjara saling tutup mulut. Ketika penjaga penjara memeriksa tahanan,
Pitung tak terlihat mereka ditanyai penjaga, tak satupun memberi tahu. Penjaga
penjara menjadi heran dan saling bertanya sesamanya. "Kemana Si Pitung
?" "Gua kagak tahu."
"Apa Si Pitung bisa ngilang ?
"Mungkin saja, buktinya kapan ada di kamarnya"
Si Kecill abang
Pitung mencari Pitung kesana kemari dan ternyata tidak juga bertemu. Karena
tidak ada hasil, pak Piun disiksa oleh penjajah Belanda. Si Kecill juga disiksa
oleh penjajah Belanda. Karena tidak tahan memperoleh siksaan, pak Piun
menantang "Bunuh saja aye".
Belanda juga
menangkap Haji Naipin, menyiksanya. Karena siksaan Belanda, Haji Naipin
bersedia mencari Si Pitung. Haji Naipin dengan kawalan serdadu Belanda yang
bersenjata lengkap mencari Si Pitung keluar-masuk kampung. Penduduk yang
ditanyai tidak satupun yang memberitahu dimana Pitung disembunyikan, para
penduduk menyaksikan Haji Naipin diseret, disiksa karena tidak dapat menemukan
Pitung. Beberapa orang penduduk memberitahukan kepada Pitung tentang keadaan
Haji Naipin, pak Piun, Si Kecil yang disiksa oleh Belanda.
Pitung sangat
berang mendengar cerita penduduk. Pitung biasanya bersembunyi pada siang hari,
akhirnya keluar untuk mencari gurunya, bapaknya serta abangnya yang berada
ditangan penjajah. Di Kota Bambu Pitung menampakkan diri ketika gurunya lewat
dibawah todongan senjata serdadu Belanda. "Lepasin guru gue, yang kalian
cari gue, bukan die lepasin" ujar Pitung sambil berdiri menghadang Scout
Heyne yang ikut rombongan mencari Si Pitung sangat gembira, buruannya selama
ini kini ada di depan mata. Scout Heyne tertawa kemudian memerintahkan serdadu
untuk mengepung Si Pitung. Sementara beberapa serdadu menodongkan senjata
kepunggung Haji Naipin. "Kalau kamu orang melawan, dia orang kami tembak,
mengerti kamu?" Scout Heyne mengancam Si Pitung.
Mendengar ancaman
tersebut, Pitung menjadi gusar dan luluh. Tak tega ia melihat gurunya hams mati
tertembak karena perbuatannya. Tetapi untuk menyerah, ia merasa enggan, namun
terbayang nasib pak Piun yang didalam penjara Belanda. Pitung pasrah untuk
ditangkap tetapi tidak akan menyerah begitu saja.
Pitung berdiri
terpaku, sementara para serdadu Belanda dalam posisi siaga tembak. Scout Heyne
mengacungkan pistolnya, memutar-mutar gagang pistol sambil menyembunyikan
senyum ejekan kepada Si Pitung. " Lepasin die, kalian busuk semua,
menghalalkan segala cara." ujar Pitung berang. " Kita orang tidak
bodoh Pitung ! " Scout Heyne berujar Iantang. Kemudian Scout Heyne
memerintahkan serdadunya yang menodong senjata kepada Haji Naipin untuk
melepaskan Haji Naipin dari todongan, namun tetap diwaspadai.
Haji Naipin
yang agak bebas berdiri, tidak tega melihat Pitung terkepung oleh para serdadu
Belanda yang siaga tembak. Haji Naipin merogoh sakunya yang berisi telur busuk,
menimang-nimang telur busuk tersebut. Haji Naipin berharap, bila telur tersebut
dilemparkan ke badan Pitung, bila Pitung melawan dan tertembak, maka ia dapat
menyembuhkan Si Pitung.
Scout Heyne
yang perasaannya takut bila Pitung melawan maka dengan segera mengambil
keputusan untuk memerintahkan serdadunya menembak. Saat yang hampir bersamaan
Haji Naipin terlebih dahulu melemparkan telur busuk ke badan Si Pitung Scout
Heyne berteriak lantang " Tembak !" bersamaan dengan itu terdengar
letusan bedil serdadu Belanda. Beberapa peluru menghujam kebadan Pitung, Pitung
berdiri terpaku menatap Scout Heyne. Pitung tak menyangka Scout Heyne berlaku
curang padahal beberapa saat sebelum Haji Naipin melemparkan telur busuk,
Pitung telah memberi tanda mengangkat kedua belah tangannya sebagai pertanda
bersedia menyerah. Pitung marah sekali dan melontarkan kata, " Heyne mulai
hari ini Iu menjadi musuh gue dan akan gue hisap darah lu." Scout Heyne
kembali memberi komando "Tembak !" Beberapa peluru kembali menerjang
tubuh Pitung. Karena ajal Pitung sudah tiba sesuai ketentuan Allah tentang mati
hidupnya seorang hamba, malaikat Izrail mencabut nyawanya.
Pitung rubuh bersimbah darah, jatuh ke bumi. Pitung gugur,sebagai
pejuang bangsanya dalam melawan penindasan Belanda beserta kaki tangannya.
Jenazah Pitung diangkut oleh Belanda, dibawa ke kantor Asisten
Residen. Scout Heyne dengan bangga melaporkan hasil kegiatannya dalam
melumpuhkan aksi perlawanan Pitung. Asisten Residen cuma diam saja, kemudian
memerintahkan agar Si Pitung dikuburkan di Pejagalan. Kuburan Si Pitung selama
6 bulan dijaga karena beberapa demang melaporkan bila tidak dijaga, mayatnya
akan di bongkar, dibawa ke perkampungan dan dapat dihidupkan kembali oleh
gurunya Haji Naipin. Haji Naipin, pak Piun dibebaskan oleh Belanda. Beberapa
hari kemudian Scout Heyne dipanggil Asisten Residen, pangkatnya dicopot atau di
berhentikan sebagai kontrolir karena bertindak yang tidak pantas sebagai
tentara dan sangat memalukan karena menembak orang yang tidak melawan.
Unsur
Instrinsik:
1.
Tema : pahlawan
2.
Alur atau plot : maju
3.
Tokoh dan
penokohan :
a.
Pak Piun : baik, penyabar,
b.
Bu Pinah : baik, penyabar,
c.
Pitung :
baik, pemberani, suka menolong,
d.
Haji Naipin : baik hati,
e.
Schout Heyne : kejam, jahat, mudah marah,
f.
Centeng-centeng : jahat, kejam.
4.
Latar :
g.
Tempat : balai-balai bambu, warung kopi,
penjara,
mushola, pasar
h.
Waktu : sore hari
i.
Suasana :
tegang, sedih. Menakutkan
5.
Sudut pandang : orang ketiga serba tahu
6.
Konflik : perampasan
harta benda oleh penguasa
7.
Amanat :
ü Jangan berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat kecil.
ü Kita harus hidup salling menghargai.
8.
Gaya bahasa : komunikatif dan
mudah dipahami
Hal-hal yang
menarik :
v Bu Pinah pun melahirkan, anaknya diberi nama Pitung.
v Pitung memutuskan untuk membela rakyat jelata.
v Pitung meloloskan diri melalui genteng penjara.
Unsur
Ekstrinsik :
1.
Nilai Agama
ü Sebagai manusia kita harus berbuat Amar Ma’ruf ahi Munkar
ü Kematian tidak bisa di hindari jika sudah ditentukan takdir
ü Rajin mengerjakan perintah Allah
2.
Nilai Moral
ü Pendidikan tata krama yang di ajarkan orang tua
ü Bertutur kata yang sopan
ü Memiliki kerendahan hati
3.
Nilai sosial
ü Pitung suka menolong orang tua dan orang lain
ü Banyak teman dan menjadi idola masyarakat
ü Mengorbankan diri sendiri demi kepentingan orang lain
4.
Nilai budaya
ü Kewajiban membayar pajak kepada Belanda
ü Belajar ilmu silat dan ilmu beladiri lainnya
ü Menambah pengetahuan agama seperti mengaji
ia selama ini belajar ilmu agama, yang menyuruh untuk Amar ma'ruf Nahi Munkar, tegakkan kebaikan cegah kemungkaran.
=========================================================================================
14 November 2013
Nama : IRFANDY
NIM : 1206104040023
“Bermain
pesan berantai”
Alat
pembelajaran (peserta didik) :
ü Peserta
didik dibagi dalam beberapa kelompok, setiap kelompok misalnya beranggotakan 10
orang.
ü Mereka
diminta berbaris secara berbanjar.
ü Orang
pertama dari setiap kelompok diberi pesan yang sama (ditentukan oleh guru, misalnya:
“Bapak guru semangat sekali, aku
senang sekali belajar kepadanya, sehingga aku mendapat nilai yang bagus sekali,
Horee..”
“Ibu guru kami yang cantik adalah
ibu guru kami di SD. Dia baik sekali kepada kami. Kami selalu tersenyum
kepadanya, hehe..”
Cara bermain:
1. Orang
pertama memberi pesan kepada orang kedua, orang kedua kepada orang ketiga dan
seterusnya (orang yang telah menerima pesan tidak boleh bertanya lagi kepada
pemberi pesan sebelumnya), sampai akhirnya pesan sampai ke orang terakhir.
2. Orang
terakhir dari setiap kelompok memberitahu kepada guru dan teman-teman yang
lainnya, pesan apa yang diterimanya.
3. Waktu
permainan kira-kira 10 menit.
Inti
permainan:
v Pentingnya
mendengarkan dan memahami suatu hal sebelum menyampaikannya kepada orang lain.
Nama : IRFANDY
NIM : 1206104040023
“Bermain
pesan berantai”
Alat
pembelajaran (peserta didik) :
ü Peserta
didik dibagi dalam beberapa kelompok, setiap kelompok misalnya beranggotakan 10
orang.
ü Mereka
diminta berbaris secara berbanjar.
ü Orang
pertama dari setiap kelompok diberi pesan yang sama (ditentukan oleh guru, misalnya:
“Bapak guru semangat sekali, aku
senang sekali belajar kepadanya, sehingga aku mendapat nilai yang bagus sekali,
Horee..”
“Ibu guru kami yang cantik adalah
ibu guru kami di SD. Dia baik sekali kepada kami. Kami selalu tersenyum
kepadanya, hehe..”
Cara bermain:
1. Orang
pertama memberi pesan kepada orang kedua, orang kedua kepada orang ketiga dan
seterusnya (orang yang telah menerima pesan tidak boleh bertanya lagi kepada
pemberi pesan sebelumnya), sampai akhirnya pesan sampai ke orang terakhir.
2. Orang
terakhir dari setiap kelompok memberitahu kepada guru dan teman-teman yang
lainnya, pesan apa yang diterimanya.
3. Waktu
permainan kira-kira 10 menit.
Inti
permainan:
v Pentingnya
mendengarkan dan memahami suatu hal sebelum menyampaikannya kepada orang lain.
=========================================================================================
Senin, 15 Juli 2013
CERPEN_Catatan Cerita Ramadhanku_IRFANDY
Catatan Cerita Ramadhanku
Pada hari pertama puasa,
aku dan kedua kawanku sedang berada di Perpustakaan Sabang, tempat yang ramah
pengunjung, gudangnya ilmu dan memiliki akses jaringan internet untuk pelajar
dan mahasiswa. Saat itu aku sedang membuat sebuah sosial media online berupa
blog atau catatan pengalaman edisi Ramadhan. Selesai membuat blog, aku
menyisipkan sebuah kata-kata mutiara yang bernilai dakwah dan memotivasi diri
demi membangun rasa cinta terhadap bulan puasa Ramadhan yang dilalui.Dalam beberapa hari ini
aku sudah memposting atau menampilkan beberapa kata-kata mutiara itu. Pada hari
pertama puasa salah satunya aku menuliskan “Pada dasarnya seorang anak itu
“remaja atau dewasa” mengikuti pola perilaku orang tuanya tanpa di sadari,
walaupun hanya sedikit.. contoh, di saat sang anak tak menjalani kewajibannya
sebagai seorang muslim, berarti orang tuanya sewaktu seusianya demikian pula
langkahnya. Lantas apa yang harus di lakukan! Setiap orang tua punya trik
tersendiri untuk mendidik para anak-anaknya dan anak pun sadar akan belajar
dari tanggung jawabnya..”Azan berkumandang,
setelah selesai menampilkan sebagian tulisan di blog dan berinternet, kami pun
bergegas pergi meninggalkan Perpustakaan dan langsung ke Mesjid untuk
melaksanakan ibadah shalat Dhuhur. Usai shalat, kami beristirahat di mesjid
sejenak berbicara mimpi masa depan yang cerah, seperti halnya “aku ingin jadi
guru, lalu naik pangkat, pindah tugas menjadi kepala Dinas Pendidikan, hehe..,”
lalu temanku Alfarabi “nanti kalau udah sukses ajak-ajak aku ya..Di sisi lain temanku Arifin yang berfoto profil
model Aceh di sebuah sosial media “aku rencana mau di masukin kerja di radio
Aceh sama seseorang..” serentak kami tertawa bersama, bukan maksud meremehkan
tapi memang suka bercanda ria di saat teman curhat. Selesai curhat, kami
bersama-sama bergegas pergi. Alfarabi dan Arifin pulang dengan pesan.. “kami
istirahat dan rencana nanti sore mau latihan (beladiri)” sedangkan aku pergi ke
Taman Digital “online lagi ni, kalau pulang cepat payah keluar rumah nanti..”Akhirnya kami berpisah di jalan dengan mengendarai
sepeda motor masing-masing.Sesampai di Taman
Digital suasananya ramai, maklum Wifi gratis dan pelayanan tempatnya memuaskan.
Beberapa menit ku duduk tiba-tiba hujan turun dan membasahkan kami semua yang
sedang asyik-asyiknya online sehingga terpaksa sebagian pengguna internet
pulang dan beberapa orang lagi berteduh di suatu tempat yang kering sedangkan
aku pergi tanpa bersabar mengendarai sepeda motor dalam keadaan basah di guyur
hujan.Lama perjalanan, sehingga terfikirkan oleh ku
untuk singgah ke tempat teman yang mana ia seorang pengusaha muda yang baru
saja merintis usaha awalnya. Setelah sampai, rupanya ia sedang merenovasi
ruangnya untuk tempat pemotretan. Aku jenuh melihat mereka membenahi ruangan
dan menunggu redanya hujan, lalu ku putuskan untuk berpamitan kepadanya “bang,
saya pergi dulu ya, mau ke TD ni atau ke pasar cari karet Jam tangan yang
putus..”, “Ok lah, hati-hati ya..” balasnya.Hari mulai sore, aku
pergi lagi mengendarai sepeda motor untuk yang kedua kalinya tapi kali ini
hujannya agak reda. Di jalan aku berfikir melamun, kemana aku harus pergi dan
munculah pemikiran saat itu bahwa aku harus ke pasar untuk memperbaiki jam
tangan terlebih dahulu. Sesampai di pasar, rupanya toko pada tutup semua sehingga
aku memutuskan kembali ke Taman Digital.Sesampai di tempat, aku membuka tasku yang berisi
laptop lalu mengakses internet untuk beberapa jam dan merancang kembali
pengaturan gambar di blog yang ku punya.Lamanya bermain hingga
waktu pun semakin gelap dan sebentar lagi akan berbuka puasa. Aku pun pulang,
berkumpul bersama keluarga untuk berbuka puasa di rumah. Selesai menunaikan
ibadah puasa di rumah, aku pun melanjutkan kegiatanku untuk merancang sebuah
kertas bergambar di Corel draw berupa tulisan untuk di tampilkan esok hari.Waktu menandakan 19.50 WIB, menjelang Isya dan
tarawih. Aku masih saja mengolah gambar dan aku tak ingin membiarkan hal ini
semakin larut dalam keindahan semata.Aku tinggalkan sekarang,
tutup laptop sementara, jalan dengan bismillah.Sesampai di mesjid seperti biasanya, menunaikan
ibadah wajib dan sunat di bulan puasa akan menambah keberkahan, hikmah dan
pahala yang besar bagi yang menjalankannya dengan ikhlas apalagi jikalau kita
mencatat segala kebaikan dan berbagi sesama muslim baik itu sedeqah, ilmu dan
nasihat yang bermanfaat untuk umat.Begitulah seterusnya aku
dan teman-teman mencoba membenah diri kearah yang lebih baik dan tak menutup
kemungkinan godaan itu selalu ada menghampiri kami di setiap saat. Semua
itu pasti akan terbayang dalam ingatan sehingga menjadi sebuah tulisan yang
bertuliskan lewat blog Ceritaramadhanku.blogsot.com tentang berbagi catatan
kebaikan yang di harapkan semua orang agar sadar menuju fitrah dengan senyuman
indah penuh kemuliaan.
=========================================================================================
Kamis, 27 Juni 2013
Berita HUT ke - 48 Sabang 2013
Pemenang juara 1 peudoda idi aneuk Sabang
=========================================================================================
Karya Seni Rupa ku saat di kelas (SMAN 1 SABANG)
XII IPS 2 My Class room
=========================================================================================
Jumat, 24 Mei 2013
Kerajinan Tangan (Gelang tali)
=================================================================
Rabu, 06 Maret 2013
Info Web Beasiswa Australia, Bidikmisi Indonesia dan Dikti
http://www.universitasaustrali.com/Universitas/University-of-New-South-Wales-UNSW
http://daftar.bidikmisi.dikti.go.id/
http://bidikmisi.kemdikbud.go.id/portal/
http://www.dikti.go.id/
=========================================================================================
Service Exellence
"Service Exellence"
Leader
Young Preneurs :
Mr.
Supriadi
Nama Kece FB:
(Didi Nuriel)
Sahabat
Entrepreneurs, ini adalah kegiatan training Beasiswa Mandiri, sedikit tambahan
pidato dari pak Didi tentang "service excelent" sebelum pulang. Yang
di maksud service excelence adalah memberikan pelayanan terbaik / prima kepada
para konsumen yang ingin membelanjakan uangnya kepada para penjual, baik itu
berupa jasa maupun produk yang ingin di jual. Kata pak didi, untuk memberikan
pelayanan prima itu tidak boleh setengah-setengah. Selain itu, agar
pembeli/konsumen tertarik apa yang di jual oleh si penjual, maka si penjual
haruslah "Inner Beauty". Inner beauty disini yang di maksud adalah
penampilan kita sebagai seorang pengusaha.. Harus bersih, rapi dan enak di
lihat. Kalau kita jorok, orang atau pelanggan pun gak jadi beli apa yang kita
jual di karenakan melihat penampilannya kita yang amburadul. Pak didi
memberikan sebuah contoh dari pengalamannya. Simak ceritanya.
"saya pagi-pagi
di ajak sama kawan ke sesuatu tempat, katanya ketempat makanan khas Aceh
langganannya, setelah saya lihat rupanya Mie Spageti Aceh (Mie Caluk) luar
biasa pembelinya, tapi yang anehnya, penjualnya masih dalam keadaan setengah
sadar (belum cuci muka), sehingga ada taik mata, lalu kuku yang itam, maen
comot2 aja tu mie dan saya berfikir kalau jatuh taik mata ke wajan mie, saya makan apa ya
rasanya? (peserta pada ketawa, wkwk), lalu saya memutuskan untuk tidak makan,
namun disisi lain bapak itu semangat paginya yang sangat luar biasa mengaduk
mienya"
Nah, di sini pak didi
memberikan penegasan bahwa menjaga penampilan itu sangatlah penting dalam
berwirausaha
SEKIAN
Editor : IRFANDY
21 Mei 2013 17.24
SEKIAN
=========================================================================================
Dosa yang kita pikul sebagai umat muslim apabila meninggalkan sholat lima waktu.
Dibawah ini ada beberapa akibat dan dosa yang kita pikul sebagai umat muslim apabila meninggalkan sholat lima waktu.. sebagaimana di ketahui perintah sholat turun ketika nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan isra' miraj dari bumi dinaikkan ke langit sampai sidratul muntaha (merupakan tempat tertinggi) , dan disanalah nabi Mummad SAW mendapatkan perintah dari Allah untuk mendirikan sholat 5 waktu.
1. Sholat subuh
Sekali meninggalkannya di masukkan ke dalam neraka selama 30 tahun sama dengan 60.000tahun didunia
2. Sholat zuhur
sekali meninggalkannya dosanya sama seperti membunuh 1000 umat islam
3. Sholat ashar
sekali meninggalkannya, dosanya sama seperti menutup Baitullah/ ka'bah
4. Sholat magrib
sekali meninggalkannya , dosanya sama seperti berzina dengan ibu sendiri
5. Sholat isya
sekali meninggalkanya, dosanya tidak di ridhai Allah SWT tinggal di bumi atau di bawah langit serta makan dan minum dari nikmatnya.
Firman Allah dalam al'quran tentang perintah mendirikan shalat
"dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar (Q.S Al -Ankabut :45)
"maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia"kan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (Q.S Maryam:59)
"jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang" yang khusyu (Q.S Albaqarah:45)
"hai.. orang" yang beriman.. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. sesungguhnya Allah beserta orang" yang sabar (Q.S Albaqarah:153)
Allah berfirman tentang nabi musa : " Dan dirikanlah shalat untuk mengingat ku (Q.S thaha:14)
Allah berfirman tentang nabi Ismail : " Dan ia menyuruh ahlinya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya (Q.S Maryam :55)
Allah berfirman tentang ibrahim: "Ya , Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang" yang tetap mendirikan shalat , Ya Rabb kami perkenankan doa ku " (Q.S Ibrahim : 40)
Allah berfirman tentang nabi Muhammad SAW: " Dan perintahkanlah kepada keluargamu
mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya (Q.S Thaha:132)
=========================================================================================
Kita Manusia, kita Mahasiswa
Cipt.
IRFANDY
Pada
hari selasa, tepatnya pukul 01.21 pagi. Aku ingin menceritakan beberapa hal
yang ingin ku sampaikan kepada kawan-kawan. Kita tahu semua, bahwa kulyah itu
tak semudah kita bayangkan sebelumnya. Banyak waktu, pikiran dan biaya
kebutuhan seperlunya. Kita juga sadar, bahwa hidup ini hanya sekali seumur
hidup. Jangan kita sia-siakan perjalanan singgahan ini. Karena, jika kita
terbuai oleh ke dunia-duniaan, pasti kita bakal celaka.
Ingin
sekali ku sampaikan kepada kita semua, termasuk diriku dan yang ikut
merasakannya. Cobalah kita mulai dengan waktu kita. Jangan terbuang sia-sia.
Manfaatkanlah dengan sebaik mungkin, terutama kita sebagai umat yang beragama
Islam. Cobalah melangkahkan kaki untuk shalat berjamaah di meunasah(mushalla) atau mesjid tepat
waktu. Selain itu aturlah pola kehidupan yang sehat, seperti berolahraga dan memakan-makanan yang
sehat pula, meskipun terkadang sebagian tak bisa sepenuhnya untuk makan empat
sehat lima sempurna di karenakan situasi dan kondisi keuangan anak asrama yang
berbeda-beda, namun dapat memilah sendiri makanan sehat buat kita sendiri
sehari-hari.
Waktu
terus berlalu, seiring umur terus bertambah. Disinilah letak kedewasaan kita
dalam berfikir dan bertindak. Jangan jadikan alasan bahwa belajar itu berat,
berfikirlah positif dan berusahalah semaksimal mungkin agar kita dapat
mengenggam masa depan yang cerah.
Selain
daripada belajar, jangan kita pikirkan hal-hal yang terlalu berlebihan soal
asmara, seperti pacaran, karena jika kita terlalu memikirkannya, maka siap-siap
uang jajan anda terkuras habis
untuk isi pulsa, karena hanya ingin menelepon atau sms si dia dan bisa-bisa
kita suka bergadang tidak jelas yang dapat mempengaruhi kesehatan tubuh dan rohani kita,
sehingga jadinya down saat mengikuti
pelajaran di perkuliahan ataupun di tempat kerja.
Kalau
menurut pandangan Islam, lebih baik kita tidak pacaran. Anggap saja bila saling
suka da cinta, lebih baik ta’aruf(perkenalan)
saja, karena ini sangat sulit untuk masuk kedalam penyakit hati ketimbang
pacaran. Bila sudah lama, namun putus di tengah jalan dan si dia sudah cinta
setengah mati, akhirnya merasa di kecewai berat bahkan berani nekat bunuh diri.
Jadi berhati-hatilah kita, jangan sampai seperti judul lagu D’Massive, “Cinta ini membunuhku”
Di
sisi lain, kita sebagai makhluk sosial selalu ingin terpenuhi segala kebutuhan. Kita selaku mahasiswa membutuhkan pendidikan.
Tanpa pendidikan kita takkan memperoleh berbagai bidang ilmu. Untuk mendapatkan
itu semua tidaklah mudah. Lihatlah orang tua kita, bersusah payah, pagi, siang
dan malam banting tulang menafkahi keluarga untuk biaya makan dan menyekolahkan
kita sampai selesai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Cinta
dan pengorbanan orang tua selalu tercurahkan buat kita. Jangan sesekali kita
membuat kecewa dan jangan pula kita lupakan jasa mereka. Ingat, kita di asuh
dari kecil hingga sekarang masih dalam tanggung jawabnya. Jangan jadikan
hinaan, pukulan dimasa lalu mengingat kita merasa marah atau merasa dendam
dalam hati, karena sesungguhnya itu merupakan sebuah pelajaran kasih sayang
mereka terhadap anak-anaknya, agar kita tidak manja di dalam menjalani
kehidupan dan menjadi musuh selama hidup dan akhir hayatnya.
Lihat
dan rasakanlah, begitu sulitnya orang tua kita mencari nafkah. Bukan sedikit
biaya yang di keluarkan untuk memperoleh pendidikan. Maka kita sebagai anak,
jangan menyiayiakan kasih sayang mereka. Meskipun saat ini kita belum mampu
membahagiakannya lewat materi atau harta, tapi berusahalah di depan maupun di
belakangnya agar selalu bisa menyenangi hati orang tua masing-masing.
Di
setiap shalat, panjatkanlah doa buat mereka agar mudah dalam menjalani perih
dan bahagianya makna kehidupan dan yang orang tuanya sudah lama tiada, doakanlah
agar mereka merasa tenang dan tentram di alam sana.
Kita
yang sedang menuju kedewasaan, petiklah sebuah pelajaran yang berarti dari
setiap orang dan janganlah mudah percaya bahkan terpengaruh kedalam hal-hal
yang negative. Buanglah sifat iri dan dengki. Berdoa dan berusahalah agar
cita-cita kita tersampaikan. Cintailah dan jangan lupakan orang-orang yang ada
di sekelilingmu, walaupun terkadang ada sebagian yang tidak menyukai bahkan
membencimu.
Ingat,
terimalah segala ketentuan takdir dan ridha Allah. Bersabarlah bila merasakan
sakit dan mengalami musibah dan bersyukurlah bila mendapat rezeki dan
kenikmatan yang banyak. Jadilah mahasiswa yang berbakti dan berguna bagi agama,
keluarga dan bangsa.
14 Agustus 2012


















Tidak ada komentar:
Posting Komentar