Education

=========================================================================================

Senin, 7 Juli 2014
> Cuma ngulang IPS ulang sama buk Nurmaysitah, Insya ALLAH <

=========================================================================================

Rabu, 01 Januari 2014, 23.48

Cerita Rakyat Betawi, Si Pitung

Memasuki abad ke-20 tanah Betawi kokoh dalam cengkraman penjajah Belanda. Hampir 3 abad penjajah menikmati kehidupan diatas keringat dan darah serta air mata penduduk pribumi Betawi. Penjajah dengan segala daya dan upaya memeras keringat penduduk melalui tuan tanah, para mandor, para centeng, dan bukan saja keringat bahkan tulang sumsum penduduk Betawi akan diperas jika memberikan keuntungan kepada mereka.
Pak Piun memandang langit mendung, sementara isterinya bu Pinah duduk di bale-bale depan rumah sambil memegang perut yang kian membesar. Beberapa hari lagi isterinya akan melahirkan anak yang ke empat. Tiga anaknya duduk di dekat ibunya, sambil bertanya, "Mengapa padi yang baru dipanen dirampas centeng Babah" bu Pinah mengusap kepala anaknya sambil berkata lirih, " Biarin tong, lagian padi kite masih ada."Pak Piun tetap memandang langit yang mendung, berharap kepada yang maha kuasa agar isterinya melahirkan dengan selamat.
Pak Piun menitikkan airmata bahagia, anak yang ke empat lahir dengan selamat. Digenggamnya tangan isterinya seraya menyatakan puji syukur kehadirat Allah,"Siapa nama anak kita?" isterinya tersenyum bahagia, terlupakan beban berat penindasan kompeni penjajah beserta cecunguk-cecunguknya. Pak Piun memberi nama anaknya dengan nama Pitung, isterinya menganggukan kepala tanda setuju.
Pitung lahir ditanah Betawi. Ia anak ke empat dari pasangan suami-isteri pak Piun dan bu Pinah. Ke-3 saudaranya masing-masing bernama Miin, Kecil, Anise. Pitung lahir di kampung Rawabelong, kampung tersebut menjadi bagian dari partikelir Kebayoran. Tuan tanah yang berkuasa di Kebayoran adalah Liem Tjeng Soen. Tanah partikelir diperoleh dari pemerintahan Belanda melalui pembelian dokumen tanah, serta kewajiban membayar pajak kepada Belanda. Tanah partikelir tersebut, Liem Tjeng Soen mengangkat centeng dari kalangan priburni yang bertugas menagih pajak kepada penduduk. Pitung masih kecil, tidak mengerti tentang tanah partikelir, mengapa padi, ayam dan kambing bapaknya diambil sewenang-sewenang oleh para centeng. Pitung menyaksikan sambil bertanya kepada bapaknya, ''mengapa ayam kita diambilin?"
Pitung menanjak dewasa. Perawakannya tidak terlalu tinggi dan tdak terlalu rendah, sekitar 165-an em, kulitnya kuning, rambutnya keriting. Pitung dibesarkan didalam keluarga pak Piun, sebagaimana anak Betawi pada umunnya Pitung memperoleh Pendidikan tata krama dari bapak dan ibunya, belajar mengaji, membantu bapaknya menanam padi, memetik kelapa, mencari rumput untuk kambing mereka, adakala Pitung membantu tetangganya. Pitung anak yang rajin mengerjakan perintah Allah, tidak pernah meninggalkan shalat, berpuasa, bertutur kata yang sopan, selalu memenuhi panggilan ibu-bapaknya.
Untuk menambah pengetahuan agama, Pitung belajar mengaji dengan Haji Naipin, seorang kiyai terkemuka di kampung Rawabelong. Selain mengaji, Pitung juga belajar ilmu silat dan ilmu bela diri lainnya pada Haji Naipin. Dalam menuntut ilmu tersebut, Pitung tergolong cerdas, patuh dan taat terhadap Petunjuk sang guru Haji Naipin. Karena ketekunan, keikhlasannya untuk menuntut ilmu, Haji Naipin menjadi sayang kepadanya, dan menaruh harapan kepadanya untuk menjadi penggantinya di kemudian hari.
Haji Naipin mencurahkan semua ilmu yang dimilikinya kepada Pitung. Ilmu Pancasona, sebuah ilmu bela ciri tingkat tinggi yang membuat pemilik ilmu kebal dari benda tajam nusuh diberikan haji Naipin kepada Pitung. "Ilmu ini buat membela orang lemah dari kezaliman, bukan untuk menzalimi orang lain" demikian pesan haji Naipin.
Sebagai seorang pemuda yang memiliki ilmu agama dan ilmu bela diri, Pitung selalu rendah hati. Kerendahan hatinya membuat ia banyak teman. Diantara teman-temannya seguru seilmu yang dekat sekali adalah Dji'i dan Rais. Pitung juga tak luput dari gejolak perasaan orang muda, ia menjalin tali kasih dengan Aisyah gadis kampung Rawabelong, keduanya bersepakat untuk membina rumah tangga di kemudian hari bila sudah pantas untuk membina rumah tangga.
Berbekal ilmu yang dimiliki, baik ilmu agama dan ilmu bela diri, Pitung membaktikan dirinya untuk ibu bapaknya serta masyarakatnya di Rawabelong. Pitung turut membantu bapaknya menanam padi, menggembalakan kambing, membantu para tetangganya dan setiap yang membutuhkan uluran tangannya. Adakalanya Pitung datang membantu meskipun tidak diminta, hal ini merupakan penerapan dari ilmu agama yang dimilikinya, bahwa membantu orang lain adalah pekerjaan yang baik sebagai amal soleh. Karenanya Pitung dikenal luas sebagai pemuda yang murah hati di masyarakatnya.
Sebagai pemuda Rawabelong, Pitung menyaksikan dengan mata kepalanya segala tindak tanduk kezaliman para centeng tuan tanah Kebayoran Liem Tjang Soen kezaliman Pemerintah Penjajah serta para serdadu Hindia Belanda yang dibantu oleh Demang Kebayoran, yang menagih pajak secara paksa atas para penduduk kampung Rawabelong. Pitung tidak dapat membiarkan kezaliman tersebut berlangsung di depan matanya. Sebagai pemuda, darahnya mendidih menyaksikan kesewenang-wenangan penjajah beserta kaki tangannya, ingin rasanya memberikan pelajaran kepada mereka, namun ibu bapaknnya menentramkan kemarahan hatinya, "jangan Tung ... dia orang punya kuase, nanti juga ada balasan buat mereka", terus ibunya membujuk agar Pitung mengurungkan niatnya. Pitung memenuhi permintam ibunya, tetapi hatinya bergejolak, kezaliman harus dilawan, bukankah
ia selama ini belajar ilmu agama, yang menyuruh untuk Amar ma'ruf Nahi Munkar, tegakkan kebaikan cegah kemungkaran.
Karena seringnya menyaksikan kezaliman yang dilakukan oleh para centeng terhadap penduduk Rawabelong, Pitung akhirnya turun tangan. Centeng yang petentengan merampas hak milik penduduk dipermalukan Pitung. Dengan bekal ilmu bela diri yang dikuasainya, Pitung mencegah centeng tersebut dalam merampas hak milik penduduk. Si centeng menjadi murka dan menghajar Pitung yang dikiranya tak memiliki kepandaian bersilat. Pitung menyambut serangan si centeng dan dengan mudah membekuknya. Si centeng jadi malu dan bangkit pergi tanpa dapat membawa barang apapun. "Awas lu, gua laporin sama Demang", centeng pergi ngeloyor tanpa muka dibawah tatapan dan ejekan penduduk.
Pitung dipanggil bapaknya, ia diminta menjualkan kambing ke pasar Tanah Abang. Bapaknya sangat memerlukan uang untuk keperluan biaya hidup keluarga mereka, "Tung gua butuh duit, lu jual gih kambing kite dua ekor", ujar bapaknya. "Aye, pak!" sahut Pitung. Segera Pitung mengeluarkan dua ekor kambing dari kandangnya, kemudian menuntun kambing tersebut ke pasar Tanah Abang dengan berjalan kaki menelusuri jalan setapak kemudian melewati pinggiran jalan kereta api sampai ke pasar Tanah Abang.
Di pasar Tanah Abang Pitung menjual kambingnya kepada pedagang kambing. Setelah terjadi penawaran dan kecocokan harganya, Pitung menerima uang penjualan kambingnya. Uang tersebut ditaruh di saku baju bagian bawah, dan Pitung segera kembali ke rumahnya.
Ketika Pitung melangkah pulang, beberapa maling mengikutinya. Pitung tidak mengetahui kalau orang yang mengikuti perjalanannya adalah para maling yang ingin mencuri uang di kantongnya. Para maling tersebut terus mengikuti. Pitung tidak menaruh curiga terhadap mereka. Di tengah perjalanan terdengar adzan dari sebuah langgar, Pitung segera menghampirinya untuk menunaikan kewajibannya melaksanakan shalat dzuhur. Pitung membuka bajunya, menyangkutkan ke dinding musolla, kemudian turun ke kali mengambil air wudhu, tak ada rasa curiga sedikit pun terhadap orang yang mengikuti perjalanannya, kesempatan demikian dimanfaatkan para maling untuk mengambil uangnya.
Pitung mengenakan bajunya dan masuk kedalam musolla untuk shalat, sementara orang yang mengikutinya ke kali mengambil wudhu. Ketika selesai shalat dzuhur, Pitung tidak menemukan orang yang mengikutinya sejak dari pasar Tanah Abang.
Pitung segera kembali kerumahnya, pak Piun sangat gembira, menyangka Pitung pulang dengan membawa hasil penjualan kambing; "Tung, mane Tung duwitnya ?" tanya pak Piun gembira "Duwitnya ilang, pak, dicopet orang," jawab Pitung polos. "Ape, duwitnye ilang? lu pake kali," bapaknya tidak percaya. "Benar ilang Pak, aye kagak pakek," Pitung mencoba menyakinkan Bapaknya. Bapaknya menjadi berang dan berkata padanya, "Lu musti nemuin itu duwit, kalo kagak ketemu,lu jangan pulang."
Pitung segera kembali ke pasar Tanah Abang mencari orang yang mencuri uangnya. Pitung menemukan mereka. Melihat Pitung mendekati, mereka menghampiri Pitung, salah seorang berkata, "Tung gua tahu keberanian lu, baiknya lu jadi pemimpin gua aja Tung, pokoknya beres deh lu bakal banyak duwit." "Pemimpin apa ?" ujar Pitung. "Jadi pemimpin gua Tung, buat ngerampokin duit orang." ujar orang itu melecehkan, Pitung diam saja, orang itu melanjutkan, "Lu yang ngawasin dan mimpin, kita yang ngerampok."
"Ape ngerampok ? Ah gue kagak mau, sebaiknya duit gue yang lu ambil, pulangin!" kelihatan Pitung menahan amarah. "Pokoknya duwit lu kagak gue kembaliin kalo lu nggak mau jadi pemimpin gue," orang itu mengejek.
Ejekan tersebut membuat Pitung marah. Pitung segera mencekal leher orang tersebut. Ternan-ternan orang tersebut segera menghampiri untuk mengeroyok Pitung. Dengan sigap Pitung melayani perkelahian. Dalam waktu singkat para kawanan pencopet itu dapat dibekuknya. Pitung mengambil uangnya, dan segera kembali kerumahnya. Dengan rasa bangga Pitung menyerahkan uang tersebut kepada pak Piun.
Sejak peristiwa tersebut, Pitung terpanggil untuk membela penduduk yang tertindas oleh perlakuan sewenang-wenang para penguasa pribumi, para centeng, para tuan tanah dan Belanda yang merampas hak milik penduduk. Setiap centeng yang terlihat merampas hak milik penduduk, Pitung memberikan pelajaran kepada centeng tersebut.
Para centeng yang diberi pelajaran oleh Pitung sebagian insyaf dan tidak mau Iagi bekerja pada tuan tanah maupun Belanda, dan sebagian lagi melaporkan kejadian tersebut kepada tuan tanah. Tuan tanah melaporkan kepada penguasa penjajah Belanda tentang tindaktanduk Pitung. Pitung dinilai telah menghambat tegaknya kekuasaan penjajah di Rawabelong. Akibatnya Pitung mulai dimata-matai oleh aparat penguasa penjajah Belanda.
Pitung menyaksikan penderitaan penduduk yang dirampas hak miliknya oleh para centeng, tuan tanah dan Belanda, dia bertekad untuk mengembalikan hak-hak penduduk tersebut. Untuk itu Pitung dan temannya Dji'in dan Rais menjalankan aksi mengambil harta yang ada ditangan para tuan tanah, penguasa pribumi, dan orang-orang kaya yang berpihak dengan Belanda.
Bagi Pitung, pengambilan secara paksa adalah halal karena harta tersebut pada dasarnya milik penduduk yang diambil juga secara sewenang-wenang. Tidaklah berdosa merampas harta para perampas. Harta yang dirampas si Pitung dan teman-temannya tersebut dikembalikan lagi kepada penduduk. Pitung melaksanakan operasi perampasan sampai ke Jembatan Lima dan Marunda.
Dalam suasana demikian pihak ketiga menumpang lewat, ikut melaksanakan perampokan mengatasnamakan si Pitung. Sehingga si Pitung terkenal di pelosok Betawi sebagai perampok. Para tuan tanah, orang kaya pro-Belanda menjadi tidak tentram, mengadukan kepada penguasa penjajah.
Penguasa penjajah di Batavia memerintahkan aparat-aparatnya untuk menangkap Pitung. Schout Heyne Kontrolir Kebayoran memerintahkan mantri polisi serta demang dan bek untuk mencari tahu dimana Pitung berada. Schout Heyne menjanjikan uang yang banyak bagi siapa saja yang bisa menangkap Si Pitung hidup atau mati. Tidak itu saja, barang siapa yang bisa memberikan keterangan dimana Si Pitung berada akan diberi hadiah.
Pitung mengetahui dirinya diburon oleh penguasa penjajah beserta para cecunguknya. Karena Pitung berpindah-pindah tempat, sampai ke Marunda. Meskipun diburon, Pitung tetap melaksanakan operasi perampasan harta orang kaya, penguasa pribumi para demang dan Tuan Tanah. Hasil perampasannya dibagi-bagikan kepada penduduk yang miskin akibat pemerasan yang dilakukan para tuan tanah, centeng dan Belanda.
Karena suka membantu penduduk dalam menghalangi para centeng memeras serta suka membagi uang hasil rampasan, Pitung menjadi idola penduduk yang tertindas oleh kekejaman para centeng, tuan tanah dan Belanda. Meskipun Pitung diburon tetapi selalu tidak dapat ditelusuri jejaknya. Para penduduk selalu menyembunyikan Pitung di rumah mereka, bahkan seorang pedagang Cina pernah menyembunyikan Pitung ketika dicari oleh kaki tangan penjajah.
Ada masa tidak beruntung. Suatu ketika Pitung melakukan aksi perampasan bersama beberapa kawannya, kedatangan mereka telah diketahui oleh kaki tangan tuan tanah. Serdadu Belanda yang dipimpin mantri polisi Kabayoran telah bersiaga dengan senjata. Ketika rombongan Pitung akan memasuki sebuah rumah milik tuan tanah,terdengar tembakan yang mengarah kepada mereka. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi kentongan bertalu-talu tuan tanah Cina dan demang telah menggerakkan para pemuda yang banyak sekali. Si Pitung dan kawan-kawannya telah terkepung. Pitung dan kawan-kawannya berusaha untuk melarikan diri karena tidak mungkin, menghadapi ratusan serta puluhan serdadu bersenjata.
Teman-temannya meloloskan diri, sementara Pitung sengaja membiarkan diri untuk ditangkap agar teman-temannya dapat lolos. Pitung akhirnya ditangkap serdadu, dibawa ke kantor Kontrolir Scout Heyne. Schout Heyne terheran-heran ketika mengetahui siapa sebenarnya Pitung yang selama ini menjadi momok. Schout Heyne menyangka Pitung orang tinggi kekar dan bertampang seram, ternyata Pitung orangnya sederhana, air muka yang jernih, tak terlihat perasaan bersalah. "kamu orang nama
Pitung ? Kamu perampok ? Kamu orang jahat" Schout Heyne menghardik Pitung. Pitung kelihatan tenang tanpa rasa takut, menantang tatapan mata Schout Heyne dan berkata, "Tuan dan orang-orang tuan yang jahat, ngerampok harta penduduk, membuat bangsa kami susah."
"Kamu orang berani sama Belanda ?"
"Mengapa takut." Scout Heyne memerintahkan serdadu Belanda memasukan Si Pitung ke dalam penjara. Pitung dipenjarakan di penjara Grogol.
Didalam penjara Grogol Pitung tidak kerasan. Pitung memikirkan nasib penduduk yang dirampas hak miliknya oleh Belanda beserta tuan tanah, demang dan para centeng. Di dalam penjara tentulah Pitung tidak dapat membantu - penduduk. Pitung memutar otak bagaimana caranya ia bisa lolos dari penjara. Kepada para ternan yang sarna-sarna berada dalam penjara CrogoI, Pitung mengancam mereka "Kalu lu semua bilang gua lolos dari genteng, lu semua gue bunuh." Karena ancaman Pitung tersebut, mereka semua tutup mulut. Pada malam hari, penjaga terkantuk-kantuk dan sempat lelap sejenak, segera Pitung memanjat dinding ruang tahanan, menjebol plapon, membuka genteng, keluar melalui bubungan atap penjara, melompat keluar. Pitung lolos dari penjara Grogol. Teman-temannya dalam penjara saling tutup mulut. Ketika penjaga penjara memeriksa tahanan, Pitung tak terlihat mereka ditanyai penjaga, tak satupun memberi tahu. Penjaga penjara menjadi heran dan saling bertanya sesamanya. "Kemana Si Pitung ?" "Gua kagak tahu."
"Apa Si Pitung bisa ngilang ?
"Mungkin saja, buktinya kapan ada di kamarnya"
Si Kecill abang Pitung mencari Pitung kesana kemari dan ternyata tidak juga bertemu. Karena tidak ada hasil, pak Piun disiksa oleh penjajah Belanda. Si Kecill juga disiksa oleh penjajah Belanda. Karena tidak tahan memperoleh siksaan, pak Piun menantang "Bunuh saja aye".
Belanda juga menangkap Haji Naipin, menyiksanya. Karena siksaan Belanda, Haji Naipin bersedia mencari Si Pitung. Haji Naipin dengan kawalan serdadu Belanda yang bersenjata lengkap mencari Si Pitung keluar-masuk kampung. Penduduk yang ditanyai tidak satupun yang memberitahu dimana Pitung disembunyikan, para penduduk menyaksikan Haji Naipin diseret, disiksa karena tidak dapat menemukan Pitung. Beberapa orang penduduk memberitahukan kepada Pitung tentang keadaan Haji Naipin, pak Piun, Si Kecil yang disiksa oleh Belanda.
Pitung sangat berang mendengar cerita penduduk. Pitung biasanya bersembunyi pada siang hari, akhirnya keluar untuk mencari gurunya, bapaknya serta abangnya yang berada ditangan penjajah. Di Kota Bambu Pitung menampakkan diri ketika gurunya lewat dibawah todongan senjata serdadu Belanda. "Lepasin guru gue, yang kalian cari gue, bukan die lepasin" ujar Pitung sambil berdiri menghadang Scout Heyne yang ikut rombongan mencari Si Pitung sangat gembira, buruannya selama ini kini ada di depan mata. Scout Heyne tertawa kemudian memerintahkan serdadu untuk mengepung Si Pitung. Sementara beberapa serdadu menodongkan senjata kepunggung Haji Naipin. "Kalau kamu orang melawan, dia orang kami tembak, mengerti kamu?" Scout Heyne mengancam Si Pitung.
Mendengar ancaman tersebut, Pitung menjadi gusar dan luluh. Tak tega ia melihat gurunya hams mati tertembak karena perbuatannya. Tetapi untuk menyerah, ia merasa enggan, namun terbayang nasib pak Piun yang didalam penjara Belanda. Pitung pasrah untuk ditangkap tetapi tidak akan menyerah begitu saja.
Pitung berdiri terpaku, sementara para serdadu Belanda dalam posisi siaga tembak. Scout Heyne mengacungkan pistolnya, memutar-mutar gagang pistol sambil menyembunyikan senyum ejekan kepada Si Pitung. " Lepasin die, kalian busuk semua, menghalalkan segala cara." ujar Pitung berang. " Kita orang tidak bodoh Pitung ! " Scout Heyne berujar Iantang. Kemudian Scout Heyne memerintahkan serdadunya yang menodong senjata kepada Haji Naipin untuk melepaskan Haji Naipin dari todongan, namun tetap diwaspadai.
Haji Naipin yang agak bebas berdiri, tidak tega melihat Pitung terkepung oleh para serdadu Belanda yang siaga tembak. Haji Naipin merogoh sakunya yang berisi telur busuk, menimang-nimang telur busuk tersebut. Haji Naipin berharap, bila telur tersebut dilemparkan ke badan Pitung, bila Pitung melawan dan tertembak, maka ia dapat menyembuhkan Si Pitung.
Scout Heyne yang perasaannya takut bila Pitung melawan maka dengan segera mengambil keputusan untuk memerintahkan serdadunya menembak. Saat yang hampir bersamaan Haji Naipin terlebih dahulu melemparkan telur busuk ke badan Si Pitung Scout Heyne berteriak lantang " Tembak !" bersamaan dengan itu terdengar letusan bedil serdadu Belanda. Beberapa peluru menghujam kebadan Pitung, Pitung berdiri terpaku menatap Scout Heyne. Pitung tak menyangka Scout Heyne berlaku curang padahal beberapa saat sebelum Haji Naipin melemparkan telur busuk, Pitung telah memberi tanda mengangkat kedua belah tangannya sebagai pertanda bersedia menyerah. Pitung marah sekali dan melontarkan kata, " Heyne mulai hari ini Iu menjadi musuh gue dan akan gue hisap darah lu." Scout Heyne kembali memberi komando "Tembak !" Beberapa peluru kembali menerjang tubuh Pitung. Karena ajal Pitung sudah tiba sesuai ketentuan Allah tentang mati hidupnya seorang hamba, malaikat Izrail mencabut nyawanya.
Pitung rubuh bersimbah darah, jatuh ke bumi. Pitung gugur,sebagai pejuang bangsanya dalam melawan penindasan Belanda beserta kaki tangannya.
Jenazah Pitung diangkut oleh Belanda, dibawa ke kantor Asisten Residen. Scout Heyne dengan bangga melaporkan hasil kegiatannya dalam melumpuhkan aksi perlawanan Pitung. Asisten Residen cuma diam saja, kemudian memerintahkan agar Si Pitung dikuburkan di Pejagalan. Kuburan Si Pitung selama 6 bulan dijaga karena beberapa demang melaporkan bila tidak dijaga, mayatnya akan di bongkar, dibawa ke perkampungan dan dapat dihidupkan kembali oleh gurunya Haji Naipin. Haji Naipin, pak Piun dibebaskan oleh Belanda. Beberapa hari kemudian Scout Heyne dipanggil Asisten Residen, pangkatnya dicopot atau di berhentikan sebagai kontrolir karena bertindak yang tidak pantas sebagai tentara dan sangat memalukan karena menembak orang yang tidak melawan.




Unsur Instrinsik:
1.    Tema                                     : pahlawan
2.    Alur atau plot                        : maju
3.    Tokoh dan penokohan          :
a.      Pak Piun                         : baik, penyabar,
b.      Bu Pinah                        : baik, penyabar,
c.       Pitung                            : baik, pemberani, suka menolong,
d.      Haji Naipin                    : baik hati,
e.       Schout Heyne                : kejam, jahat, mudah marah,
f.       Centeng-centeng            : jahat, kejam.

4.    Latar :
g.      Tempat                           : balai-balai bambu, warung kopi, penjara,
  mushola, pasar
h.      Waktu                            : sore hari
i.        Suasana                          : tegang, sedih. Menakutkan

5.    Sudut pandang                     : orang ketiga serba tahu
6.    Konflik                                 : perampasan harta benda oleh penguasa
7.    Amanat                                 :
ü  Jangan berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat kecil.
ü  Kita harus hidup salling menghargai.

8.    Gaya bahasa                          : komunikatif dan mudah dipahami
Hal-hal yang menarik :
v  Bu Pinah pun melahirkan, anaknya diberi nama Pitung.
v  Pitung memutuskan untuk membela rakyat jelata.
v  Pitung meloloskan diri melalui genteng penjara.
  

Unsur Ekstrinsik :
1.    Nilai Agama
ü Sebagai manusia kita harus berbuat Amar Ma’ruf ahi Munkar
ü Kematian tidak bisa di hindari jika sudah ditentukan takdir
ü Rajin mengerjakan perintah Allah

2.    Nilai Moral
ü Pendidikan tata krama yang di ajarkan orang tua
ü Bertutur kata yang sopan
ü Memiliki kerendahan hati

3.    Nilai sosial
ü Pitung suka menolong orang tua dan orang lain
ü Banyak teman dan menjadi idola masyarakat
ü Mengorbankan diri sendiri demi kepentingan orang lain

4.    Nilai budaya
ü Kewajiban membayar pajak kepada Belanda
ü Belajar ilmu silat dan ilmu beladiri lainnya
ü Menambah pengetahuan agama seperti mengaji

=========================================================================================

14 November 2013

Nama      :       IRFANDY
NIM        :       1206104040023

“Bermain pesan berantai”

Alat pembelajaran (peserta didik) :
ü Peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok, setiap kelompok misalnya beranggotakan 10 orang.
ü Mereka diminta berbaris secara berbanjar.
ü Orang pertama dari setiap kelompok diberi pesan yang sama (ditentukan oleh guru, misalnya:

“Bapak guru semangat sekali, aku senang sekali belajar kepadanya, sehingga aku mendapat nilai yang bagus sekali, Horee..”

“Ibu guru kami yang cantik adalah ibu guru kami di SD. Dia baik sekali kepada kami. Kami selalu tersenyum kepadanya, hehe..”

Cara bermain:
1.  Orang pertama memberi pesan kepada orang kedua, orang kedua kepada orang ketiga dan seterusnya (orang yang telah menerima pesan tidak boleh bertanya lagi kepada pemberi pesan sebelumnya), sampai akhirnya pesan sampai ke orang terakhir.
2. Orang terakhir dari setiap kelompok memberitahu kepada guru dan teman-teman yang lainnya, pesan apa yang diterimanya.
3. Waktu permainan kira-kira 10 menit.

Inti permainan:
v Pentingnya mendengarkan dan memahami suatu hal sebelum menyampaikannya kepada orang lain.

=========================================================================================

Senin, 15 Juli 2013

CERPEN_Catatan Cerita Ramadhanku_IRFANDY

Catatan Cerita Ramadhanku

Pada hari pertama puasa, aku dan kedua kawanku sedang berada di Perpustakaan Sabang, tempat yang ramah pengunjung, gudangnya ilmu dan memiliki akses jaringan internet untuk pelajar dan mahasiswa. Saat itu aku sedang membuat sebuah sosial media online berupa blog atau catatan pengalaman edisi Ramadhan. Selesai membuat blog, aku menyisipkan sebuah kata-kata mutiara yang bernilai dakwah dan memotivasi diri demi membangun rasa cinta terhadap bulan puasa Ramadhan yang dilalui.Dalam beberapa hari ini aku sudah memposting atau menampilkan beberapa kata-kata mutiara itu. Pada hari pertama puasa salah satunya aku menuliskan “Pada dasarnya seorang anak itu “remaja atau dewasa” mengikuti pola perilaku orang tuanya tanpa di sadari, walaupun hanya sedikit.. contoh, di saat sang anak tak menjalani kewajibannya sebagai seorang muslim, berarti orang tuanya sewaktu seusianya demikian pula langkahnya. Lantas apa yang harus di lakukan! Setiap orang tua punya trik tersendiri untuk mendidik para anak-anaknya dan anak pun sadar akan belajar dari tanggung jawabnya..”Azan berkumandang, setelah selesai menampilkan sebagian tulisan di blog dan berinternet, kami pun bergegas pergi meninggalkan Perpustakaan dan langsung ke Mesjid untuk melaksanakan ibadah shalat Dhuhur. Usai shalat, kami beristirahat di mesjid sejenak berbicara mimpi masa depan yang cerah, seperti halnya “aku ingin jadi guru, lalu naik pangkat, pindah tugas menjadi kepala Dinas Pendidikan, hehe..,” lalu temanku Alfarabi “nanti kalau udah sukses ajak-ajak aku ya..Di sisi lain temanku Arifin yang berfoto profil model Aceh di sebuah sosial media “aku rencana mau di masukin kerja di radio Aceh sama seseorang..” serentak kami tertawa bersama, bukan maksud meremehkan tapi memang suka bercanda ria di saat teman curhat. Selesai curhat, kami bersama-sama bergegas pergi. Alfarabi dan Arifin pulang dengan pesan.. “kami istirahat dan rencana nanti sore mau latihan (beladiri)” sedangkan aku pergi ke Taman Digital “online lagi ni, kalau pulang cepat payah keluar rumah nanti..”Akhirnya kami berpisah di jalan dengan mengendarai sepeda motor masing-masing.Sesampai di Taman Digital suasananya ramai, maklum Wifi gratis dan pelayanan tempatnya memuaskan. Beberapa menit ku duduk tiba-tiba hujan turun dan membasahkan kami semua yang sedang asyik-asyiknya online sehingga terpaksa sebagian pengguna internet pulang dan beberapa orang lagi berteduh di suatu tempat yang kering sedangkan aku pergi tanpa bersabar mengendarai sepeda motor dalam keadaan basah di guyur hujan.Lama perjalanan, sehingga terfikirkan oleh ku untuk singgah ke tempat teman yang mana ia seorang pengusaha muda yang baru saja merintis usaha awalnya. Setelah sampai, rupanya ia sedang merenovasi ruangnya untuk tempat pemotretan. Aku jenuh melihat mereka membenahi ruangan dan menunggu redanya hujan, lalu ku putuskan untuk berpamitan kepadanya “bang, saya pergi dulu ya, mau ke TD ni atau ke pasar cari karet Jam tangan yang putus..”, “Ok lah, hati-hati ya..” balasnya.Hari mulai sore, aku pergi lagi mengendarai sepeda motor untuk yang kedua kalinya tapi kali ini hujannya agak reda. Di jalan aku berfikir melamun, kemana aku harus pergi dan munculah pemikiran saat itu bahwa aku harus ke pasar untuk memperbaiki jam tangan terlebih dahulu. Sesampai di pasar, rupanya toko pada tutup semua sehingga aku memutuskan kembali ke Taman Digital.Sesampai di tempat, aku membuka tasku yang berisi laptop lalu mengakses internet untuk beberapa jam dan merancang kembali pengaturan gambar di blog yang ku punya.Lamanya bermain hingga waktu pun semakin gelap dan sebentar lagi akan berbuka puasa. Aku pun pulang, berkumpul bersama keluarga untuk berbuka puasa di rumah. Selesai menunaikan ibadah puasa di rumah, aku pun melanjutkan kegiatanku untuk merancang sebuah kertas bergambar di Corel draw berupa tulisan untuk di tampilkan esok hari.Waktu menandakan 19.50 WIB, menjelang Isya dan tarawih. Aku masih saja mengolah gambar dan aku tak ingin membiarkan hal ini semakin larut dalam keindahan semata.Aku tinggalkan sekarang, tutup laptop sementara, jalan dengan bismillah.Sesampai di mesjid seperti biasanya, menunaikan ibadah wajib dan sunat di bulan puasa akan menambah keberkahan, hikmah dan pahala yang besar bagi yang menjalankannya dengan ikhlas apalagi jikalau kita mencatat segala kebaikan dan berbagi sesama muslim baik itu sedeqah, ilmu dan nasihat yang bermanfaat untuk umat.Begitulah seterusnya aku dan teman-teman mencoba membenah diri kearah yang lebih baik dan tak menutup kemungkinan godaan itu selalu ada menghampiri kami di setiap saat. Semua itu pasti akan terbayang dalam ingatan sehingga menjadi sebuah tulisan yang bertuliskan lewat blog Ceritaramadhanku.blogsot.com tentang berbagi catatan kebaikan yang di harapkan semua orang agar sadar menuju fitrah dengan senyuman indah penuh kemuliaan.

=========================================================================================

Kamis, 27 Juni 2013

=========================================================================================

Karya Seni Rupa ku saat di kelas (SMAN 1 SABANG)

XII IPS 2 My Class room

=========================================================================================

Jumat, 24 Mei 2013

Kerajinan Tangan (Gelang tali)

        Gelang tali adalah salah satu kreatifitas siswa, pelajar dan mahasiswa.. Bisa di pakai untuk bergaya dan peluang usaha anak muda, dengan biaya produksinya yang tidak mahal dan keuntungannya tergolong lumayan besar, jika penjualan gelang ini laris manis di pasaran..

Tips cara membuatnya:






















=================================================================

Rabu, 06 Maret 2013

Info Web Beasiswa Australia, Bidikmisi Indonesia dan Dikti

http://www.universitasaustrali.com/Universitas/University-of-New-South-Wales-UNSW

http://daftar.bidikmisi.dikti.go.id/

http://bidikmisi.kemdikbud.go.id/portal/


http://www.dikti.go.id/

=========================================================================================

Service Exellence 

"Service Exellence"

Leader Young Preneurs :
Mr. Supriadi 
Nama Kece FB: (Didi Nuriel)



Sahabat Entrepreneurs, ini adalah kegiatan training Beasiswa Mandiri, sedikit tambahan pidato dari pak Didi tentang "service excelent" sebelum pulang. Yang di maksud service excelence adalah memberikan pelayanan terbaik / prima kepada para konsumen yang ingin membelanjakan uangnya kepada para penjual, baik itu berupa jasa maupun produk yang ingin di jual. Kata pak didi, untuk memberikan pelayanan prima itu tidak boleh setengah-setengah. Selain itu, agar pembeli/konsumen tertarik apa yang di jual oleh si penjual, maka si penjual haruslah "Inner Beauty". Inner beauty disini yang di maksud adalah penampilan kita sebagai seorang pengusaha.. Harus bersih, rapi dan enak di lihat. Kalau kita jorok, orang atau pelanggan pun gak jadi beli apa yang kita jual di karenakan melihat penampilannya kita yang amburadul. Pak didi memberikan sebuah contoh dari pengalamannya. Simak ceritanya.
"saya pagi-pagi di ajak sama kawan ke sesuatu tempat, katanya ketempat makanan khas Aceh langganannya, setelah saya lihat rupanya Mie Spageti Aceh (Mie Caluk) luar biasa pembelinya, tapi yang anehnya, penjualnya masih dalam keadaan setengah sadar (belum cuci muka), sehingga ada taik mata, lalu kuku yang itam, maen comot2 aja tu mie dan saya berfikir kalau jatuh taik mata ke wajan mie, saya makan apa ya rasanya? (peserta pada ketawa, wkwk), lalu saya memutuskan untuk tidak makan, namun disisi lain bapak itu semangat paginya yang sangat luar biasa mengaduk mienya"
Nah, di sini pak didi memberikan penegasan bahwa menjaga penampilan itu sangatlah penting dalam berwirausaha
                                                                                                   



SEKIAN

Editor : IRFANDY
21 Mei 2013 17.24

=========================================================================================

Dosa yang kita pikul sebagai umat muslim apabila meninggalkan sholat lima waktu.

Dibawah ini ada beberapa akibat dan dosa yang kita pikul sebagai umat muslim apabila meninggalkan sholat lima waktu.. sebagaimana di ketahui perintah sholat turun ketika nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan isra' miraj dari bumi dinaikkan ke langit sampai sidratul muntaha (merupakan tempat tertinggi) , dan disanalah nabi Mummad SAW mendapatkan perintah dari Allah untuk mendirikan sholat 5 waktu.

1. Sholat subuh
Sekali meninggalkannya di masukkan ke dalam neraka selama 30 tahun sama dengan 60.000tahun didunia

2. Sholat zuhur
sekali meninggalkannya dosanya sama seperti membunuh 1000 umat islam

3. Sholat ashar
sekali meninggalkannya, dosanya sama seperti menutup Baitullah/ ka'bah

4. Sholat magrib
sekali meninggalkannya , dosanya sama seperti berzina dengan ibu sendiri

5. Sholat isya

sekali meninggalkanya, dosanya tidak di ridhai Allah SWT tinggal di bumi atau di bawah langit serta makan dan minum dari nikmatnya.
Firman Allah dalam al'quran tentang perintah mendirikan shalat 
"dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar (Q.S Al -Ankabut :45)
"maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia"kan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (Q.S Maryam:59)
"jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang" yang khusyu (Q.S Albaqarah:45)
"hai.. orang" yang beriman.. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. sesungguhnya Allah beserta orang" yang sabar (Q.S Albaqarah:153)
Allah berfirman tentang nabi musa : " Dan dirikanlah shalat untuk mengingat ku (Q.S thaha:14)
Allah berfirman tentang nabi Ismail : " Dan ia menyuruh ahlinya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya (Q.S Maryam :55)
Allah berfirman tentang ibrahim: "Ya , Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang" yang tetap mendirikan shalat , Ya Rabb kami perkenankan doa ku " (Q.S Ibrahim : 40)
Allah berfirman tentang nabi Muhammad SAW: " Dan perintahkanlah kepada keluargamu
mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya (Q.S Thaha:132)

=========================================================================================

Kita Manusia, kita Mahasiswa
Cipt. IRFANDY

Pada hari selasa, tepatnya pukul 01.21 pagi. Aku ingin menceritakan beberapa hal yang ingin ku sampaikan kepada kawan-kawan. Kita tahu semua, bahwa kulyah itu tak semudah kita bayangkan sebelumnya. Banyak waktu, pikiran dan biaya kebutuhan seperlunya. Kita juga sadar, bahwa hidup ini hanya sekali seumur hidup. Jangan kita sia-siakan perjalanan singgahan ini. Karena, jika kita terbuai oleh ke dunia-duniaan, pasti kita bakal celaka.
Ingin sekali ku sampaikan kepada kita semua, termasuk diriku dan yang ikut merasakannya. Cobalah kita mulai dengan waktu kita. Jangan terbuang sia-sia. Manfaatkanlah dengan sebaik mungkin, terutama kita sebagai umat yang beragama Islam. Cobalah melangkahkan kaki untuk shalat berjamaah di meunasah(mushalla) atau mesjid tepat waktu. Selain itu aturlah pola kehidupan yang sehat, seperti berolahraga dan memakan-makanan yang sehat pula, meskipun terkadang sebagian tak bisa sepenuhnya untuk makan empat sehat lima sempurna di karenakan situasi dan kondisi keuangan anak asrama yang berbeda-beda, namun dapat memilah sendiri makanan sehat buat kita sendiri sehari-hari.
Waktu terus berlalu, seiring umur terus bertambah. Disinilah letak kedewasaan kita dalam berfikir dan bertindak. Jangan jadikan alasan bahwa belajar itu berat, berfikirlah positif dan berusahalah semaksimal mungkin agar kita dapat mengenggam masa depan yang cerah.
Selain daripada belajar, jangan kita pikirkan hal-hal yang terlalu berlebihan soal asmara, seperti pacaran, karena jika kita terlalu memikirkannya, maka siap-siap uang jajan anda terkuras habis untuk isi pulsa, karena hanya ingin menelepon atau sms si dia dan bisa-bisa kita suka bergadang tidak jelas yang dapat mempengaruhi kesehatan tubuh dan rohani kita, sehingga jadinya down saat mengikuti pelajaran di perkuliahan ataupun di tempat kerja.
Kalau menurut pandangan Islam, lebih baik kita tidak pacaran. Anggap saja bila saling suka da cinta, lebih baik ta’aruf(perkenalan) saja, karena ini sangat sulit untuk masuk kedalam penyakit hati ketimbang pacaran. Bila sudah lama, namun putus di tengah jalan dan si dia sudah cinta setengah mati, akhirnya merasa di kecewai berat bahkan berani nekat bunuh diri. Jadi berhati-hatilah kita, jangan sampai seperti judul lagu D’Massive, “Cinta ini membunuhku”
Di sisi lain, kita sebagai makhluk sosial selalu ingin terpenuhi segala kebutuhan.  Kita selaku mahasiswa membutuhkan pendidikan. Tanpa pendidikan kita takkan memperoleh berbagai bidang ilmu. Untuk mendapatkan itu semua tidaklah mudah. Lihatlah orang tua kita, bersusah payah, pagi, siang dan malam banting tulang menafkahi keluarga untuk biaya makan dan menyekolahkan kita sampai selesai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Cinta dan pengorbanan orang tua selalu tercurahkan buat kita. Jangan sesekali kita membuat kecewa dan jangan pula kita lupakan jasa mereka. Ingat, kita di asuh dari kecil hingga sekarang masih dalam tanggung jawabnya. Jangan jadikan hinaan, pukulan dimasa lalu mengingat kita merasa marah atau merasa dendam dalam hati, karena sesungguhnya itu merupakan sebuah pelajaran kasih sayang mereka terhadap anak-anaknya, agar kita tidak manja di dalam menjalani kehidupan dan menjadi musuh selama hidup dan akhir hayatnya.
Lihat dan rasakanlah, begitu sulitnya orang tua kita mencari nafkah. Bukan sedikit biaya yang di keluarkan untuk memperoleh pendidikan. Maka kita sebagai anak, jangan menyiayiakan kasih sayang mereka. Meskipun saat ini kita belum mampu membahagiakannya lewat materi atau harta, tapi berusahalah di depan maupun di belakangnya agar selalu bisa menyenangi hati orang tua masing-masing.
Di setiap shalat, panjatkanlah doa buat mereka agar mudah dalam menjalani perih dan bahagianya makna kehidupan dan yang orang tuanya sudah lama tiada, doakanlah agar mereka merasa tenang dan tentram di alam sana.
Kita yang sedang menuju kedewasaan, petiklah sebuah pelajaran yang berarti dari setiap orang dan janganlah mudah percaya bahkan terpengaruh kedalam hal-hal yang negative. Buanglah sifat iri dan dengki. Berdoa dan berusahalah agar cita-cita kita tersampaikan. Cintailah dan jangan lupakan orang-orang yang ada di sekelilingmu, walaupun terkadang ada sebagian yang tidak menyukai bahkan membencimu.
Ingat, terimalah segala ketentuan takdir dan ridha Allah. Bersabarlah bila merasakan sakit dan mengalami musibah dan bersyukurlah bila mendapat rezeki dan kenikmatan yang banyak. Jadilah mahasiswa yang berbakti dan berguna bagi agama, keluarga dan bangsa.



















SEKIAN
 14 Agustus 2012

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar